Senin, 17 Oktober 2011

Tips memotret Tokoh dan Model

Kategori: Teori Dasar Fotografi

Salah satu obyek yang paling sering dipotret adalah manusia. Ketika berwisata
bersama keluarga, sekedar kumpul bareng teman, atau ketika lulus kuliah, kamera
menjadi alat utama untuk mengabadikan saat-saat kenangan. Di dinding rumah pun
bisa jadi foto manusia yang banyak dipajang, dalam bentuk foto keluarga di studio
atau reuni teman-teman sekampus, sebagai misal.

Dalam data pribadi kerap kali dijumpai hobi difoto, untuk menyebut hobi-hobi
lain seperti membaca, jalan-jalan, dan nonton film. Bisa jadi yang sebenarnya
menjadi hobi adalah hobi melihat foto diri sendiri ketimbang difoto. Karena untuk
difoto sebenarnya tidak selalu semenyenangkan duduk sambil ngemil di depan TV
atau membaca di kursi malas. Difoto, dalam arti serius, berarti wanita harus menyiapkan
rias wajah dan rambut, sementara pria harus tampil rapi dengan pakaian necis.

Semakin serius sebuah pemotretan, berarti semakin serius pula persiapannya. Sebuah
pemotretan model gaya ABG di studio-studio foto tentu tak seberat sesi pemotretan
model untuk iklan produk. Lebih serius lagi jikalau model yang di-casting adalah
model terkenal yang dibayar mahal. Bisa jadi sangat serius jika model foto adalah
pejabat tinggi negara atau pengusaha kaya yang hendak ditampilkan anggun, gagah,
berwibawa, chic dan mewah. Di luar itu semua, unsur fun tetap lebih banyak dan
lebih dinikmati ketimbang peluh yang bercucuran untuk menyiapkan kostum dan setting
tempat. Terlebih lagi jika seluruh kru pemotretan dan model bisa berkomunikasi
dengan akrab.

Segi Teknis Penting
Tentu saja, unsur-unsur teknis tetap tak bisa disepelekan. Karena sedap tidaknya
sebuah foto dipandang tetap dibangun oleh unsur-unsur teori dasar fotografi. Tak
perlu rumit-rumit, cukup dengan bermain-main dengan komposisi dan pencahayaan
maka sebuah foto model bisa dibuat dengan benar. Selebihnya, tinggal bagaimana
cara fotografer mengarahkan pose dan ekspresi sang model. Misalnya saja pada foto
close up Rahma Azhari. Dalam foto tersebut bisa dilihat penempatan titik Point of Interest (POI) sesuai
dengan komposisi sepertiga (Rule of Third). Pencahayaan dibuat frontal menggunakan
reflektor, karena kondisi pemotretan aslinya adalah outdoor pada saat cahaya matahari
pada posisi top lighting. Sementara pada foto ?Rahma in Blue? komposisi masih
dibuat sesuai komposisi sepertiga tapi dalam format horisontal.

Masih dalam kaitan unsur teknis dasar fotografi, komposisi sepertiga juga diterapkan
pada foto ?Main Air?. POI diletakkan pada sepertiga bagian sebelah kanan dengan pose menghadap ke
kiri untuk ?mengisi? bagian kiri foto. Di sini ada unsur teknis lain yang terlibat,
yakni pemilihan ruang tajam (depth of field) yang sempit sehingga mem-blur-kan
latar depan dan latar belakang. Ruang tajam yang sempit (shallow depth of field)
membantu fotografer mengarahkan perhatian pemirsa foto hanya pada model yang menjadi
POI, tanpa harus teralihkan perhatiannya dengan bebatuan di sekitar model. Teknik
dasar lain yang digunakan adalah freezing (membekukan gerak), dengan cara memakai
kecepatan rana tinggi, untuk merekam butir-butir air secara tajam. Elemen-elemen
yang ada di lokasi pemotretan, terutama pemotretan di luar ruangan, akan sangat
berguna jika dimanfaatkan secara cerdik.

Pose dan Ekspresi
Kemampuan model berpose dan berekspresi tetap menjadi unsur yang tak terpisahkan
dari keberhasilan sebuah foto model. Mengarahkan model yang bukan profesional
lebih menantang daripada model profesional. Tapi, bisa jadi lebih menarik dan
menantang jika memotret tokoh dalam pose-pose yang lain dari biasanya. Istilah
gampangnya, tampil unik tapi menarik, nyeleneh tapi jenaka, pose tak biasa tapi
tetap sedap dipandang. Pose-pose tersebut membutuhkan kemampuan non-fotografis
yang kental, seperti pendalaman pribadi, kedekatan emosional dan kemampuan berkomunikasi.
Resep utamanya adalah menggali hal unik yang menjadi pencerminan khas tokoh dan
model yang hendak difoto.

Ketika memotret Sheila on 7 (SO7), yang notabene kerap bertemu muka di sebuah
radio di Yogyakarta, tetap menjadi tantangan tersendiri. Komunikasi yang dibangun
kerap kali menjadi bercanda yang kebablasan bercanda terus, atau malah sebaliknya
serius yang bablas menjadi kaku. Ketika itu sekitar tahun 1998, SO7 baru menyelesaikan
album pertama dan dipotret untuk kepentingan materi iklan sebuah perusahaan t-shirt.
Hari berikutnya, mereka ingin difoto untuk kepentingan manajemen mereka dan koleksi
pribadi. Jadilah, pose-pose yang nyeleneh, jenaka, dan unik yang tak terencanakan
sebelumnya. Foto ?Sheila on 7?s Free Style? akhirnya dihasilkan bermodal komunikasi
akrab. Ketika itu, kamera medium format fokus manual memaksa tangan terus menerus
melekat di gelang fokus lensa dan tombol pelepas rana agar momen ekspresi yang
muncul hanya untuk beberapa detik tak luput dari rekaman.

Lain halnya dengan pose-pose yang tidak terlalu dinamis bergerak atau berekspresi.
Fotografer bisa dengan perlahan mengeset kamera dan pencahayaan serta berhati-hati
memilih angle. Misalnya saja pada foto ?Terkulai? yang dibuat pada set indoor
dengan pencahayaan artifisial dan sentuhan akhir di komputer untuk memberi pewarnaan
berkesankesan lembut dan hangat.
Perlu Pendekatan Personal
Keberhasilan merekam pose-pose menarik memang tak berhubungan langsung dengan
segi teknis fotografi. Tapi, keberhasilan secara teknis fotografi tak ada artinya
dalam kancah memotret model dan tokoh tanpa pose yang sedap dipandang mata. Terlebih
lagi jika ingin mengekplorasi seorang tokoh dalam pose-pose yang unik dan ekspresif.
Bisa jadi pose-pose tersebut adalah pose-pose ?apa adanya? meski sebenarnya diarahkan
oleh fotografer.

Ketika memotret seorang aktor teater dan seniman serba bisa Butet Kertarejasa,
misalnya. Tak ada pembicaraan khusus sebelumnya, selain berbincang ringan di ruang
tunggu bandara pada suatu pagi. Lantas, niat untuk membuat suatu sesi foto kemudian
muncul yang dilanjutkan dengan beberapa perencanaan sederhana, seperti soal lokasi
dan kostum. Memang, adalah penting untuk membuat tokoh sebagai model tetap nyaman
berpose di depan kamera dan berbagai perlengkapan pencahayaan. Dan memutuskan
kediaman pribadi tokoh itu sendiri sebagai lokasi pemotretan tentu bukanlah suatu
syarat yang sulit.

Perencanaan yang cerdik dibutuhkan untuk berhasil membuat foto-foto bagus. Mengenali
diri seorang tokoh, berikut keseharian dan karir tokoh tersebut sama pentingnya
dengan merencanakan kostum yang hendak dikenakan. Pemanfaatan properti pun jangan
disepelekan demi menciptakan suasana yang mencerminkan pribadi sang tokoh. Seperti
dalam foto ?Oom Pasikom Style?, sudah diketahui terlebih dahulu bahwa Butet melakoni
tokoh bernama sama dengan judul foto dalam sebuah sinetron di stasiun TV swasta.
Maka, kostumnya pun menjadi saling dukung-mendukung dengan pose, plus imbuhan
properti mobil kuno koleksi pribadi Butet.

Lokasi dan Properti
Masih dalam mobil kunonya, Butet terlihat merasa sangat bebas dan nyaman, didukung
suasana penuh canda dan komunikasi yang berlangsung akrab. Jadilah pose jenaka
pada foto ?Butet in Expression? tercipta. Ini adalah pose yang tak muncul dalam benak saya sebagai fotografer
ketika merencanakan pemotretan Butet. Bisa dibilang, pose ini adalah improvisasi
yang berhasil.

Kebutuhan akan properti tak perlu berlebihan, dengan cara memanfaatkan properti
yang sudah ada di lokasi. Kebetulan Butet pernah menulis di Kompas perihal koleksi
kotak rokoknya. Maka, adalah pose yang wajar jika Butet kemudian difoto sambil
merokok di depan koleksi kotak-kotak rokoknya, seperti pada foto ?Butet dan Koleksi
Kotak Rokoknya?. Lantas, ada pula faktor keberuntungan dan kebetulan yang bisa
menghasilkan foto candid. Ketika dalam pose merokok di depan lemari koleksi kotak
rokoknya, kebetulan ponsel Butet berdering dan saya persilakan untuk menjawabnya.
Tentu bukan tanpa alasan dan sama sekali tidak mengganggu sesi pemotretan, karena
pada saat itulah salah satu kesempatan emas muncul untuk merekam ekspresi Butet
yang paling tak dibuat-buat. Maka, terciptalah foto ?Halo, Butet di Sini...?.

Mengukur Keberhasilan
Membuat foto model dan foto tokoh bisa disebut berhasil jika fotografer berhasil
mengkomunikasikan ide di benaknya kepada para pemirsa foto. Jika pemirsa foto
mengernyitkan dahi pertanda bingung atau memicingkan mata pertanda tak nyaman
memandang, maka bisa dibilang pemotretan belum berhasil sepenuhnya. Lain halnya
jika pemirsa foto mengangguk-angguk pertanda paham atau diam untuk merenung lantaran
berhasil meresapi makna dan rasa dari foto yang dilihatnya. Keberhasilan itu menjadi
lebih berguna lagi tatkala muncul inspirasi-inspirasi baru di benak pemirsa foto
setelah melihat karya-karya seorang fotografer.***


Versi asli (unedited) dari tulisan untuk rubrik Pixel di harian Kompas

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar